Mungkin
Anda berpikir bahwa menjadi seorang developer harus memiliki pengalaman yang
memadai. Hal itu bisa dibenarkan, walaupun tidak tertutup kemungkinan untuk
masyarakat awam untuk memulai bisnis ini. Hal ini dikuatkan dengan pendapat
Cokro (Cokro Anton Wibowo seorang developer asal Palembang) “Orang awam pun
bisa, asalkan mau belajar dengan sungguh-sungguh.” Namun, disarankan untuk
berkenalan dengan developer berpengalaman untuk menggali ilmu dan informasi
untuk usaha ini.
Kompetensi yang
dibutuhkan dalam bisnis dapat diperoleh dengan perekrutan tenaga kerja. Menurut
Cokro “Yang pokok adalah tenaga-tenaga di bidang teknik sipil, arsitek, dan
pemasaran.” Di awal cukup merekrut lima karyawan. Namun, untuk mempelajari
hal-hal yang terkait dengan developer dibutuhkan sekitar dua tahun.
Keuntungan sebesar 25%
hingga 35% menggiurkan seseorang untuk menjadi pengembang property (developer).
Bayangkan saja dengan modal Rp. 6 miliar bisa kembali dalam waktu 2 tahun saja.
Ada dua macam developer pemula, ada developer mandiri dan ada developer yang
bermitra dengan waralaba.
Developer
Mandiri
Untuk menjadi developer
mandiri, Cokro (developer asal Palembang) mengatakan bahwa untuk memulai bisnis
ini, seorang developer memerlukan lahan, perencanaan bisnis, dan tenaga kerja.
Untuk modal awal, Rp.500 juta – Rp.1 miliar dibutuhkan. Uang tersebut digunakan
untuk membangun kantor, rumah contoh, jalan dan taman, promosi, serta legalitas
pertanahan. Sebagai seorang pemula lahan yang harus disediakan adalah minimal 1
ha dan dibutuhkan dana Rp.2 miliar – Rp.3 miliar. Menurut Cokro, harga tanah
sekitas Rp. 300.000 per m2 masih bisa mendapatkan lokasi yang bagus
dan strategis”.
Berdasarkan tanah seluas
1 ha yang didapat, dibangun 60-70 unit rumah tipe 40m2. Menurut
Cokro, di Palembang dengan ukuran tersebut rata-rata harga rumah dikenakan
mulai Rp.180 juta hingga Rp.250 juta per unit. Harga tersebut dinilai masih
terjangkau oleh masyarakat sebagai pembeli. Hal ini memudahkan developer
menjual property yang telah dibangun. Jika terjual habis maka omzet yang
didapat sekitar Rp. 12 miliar.
Syarat utama dalam
bisnis property adalah lokasi strategis dan harga terjangkau, dalam waktu
setahun semua unit rumah bisa laku terjual. Strategis yang dimaksud adalah
jarak rumah dan jalan raya tidak terlalu jauh, akses jalan tidak rusak, dan
dekat dengan fasilitas umum seperti pasar, rumah sakit, dan sekolah.
Seorang developer
pemula yang mandiri membutuhkan promosi awal yang besar. Diperlukan dana untuk
pasang iklan, mengikuri pameran-pameran dan upaya lainnya dalam rangka
mempromosikan bendera perusahaannya yang masih baru.
Keuntungan menjadi
developer mandiri adalah terbebas dari franchise fee, marketing fee, dan
royalty fee. Dengan omzetRp. 12 miliar, pengeluaran selama setahun Rp. 6,96
miliar. Biaya itu dipakai untuk belanja bahan bangunan dan tukan, pembangunan
fasilitas umum dan social, pengurusan izin, membayar gaji karyawan, promosi dan
biaya operasional lain.
Developer
yang Bermitra dengan Waralaba
Sebuah contoh kisah
kesuksesan seorang developer asal Palembang bernama Cokro Anton Wibowo dapat
membangun perumahan di enam lokasi proyek perumahan dan empat lokasi proyek
pertokoan hanya dalam waktu tiga tahun. Pada waktu itu, Cokro adalah developer
pemula karena ia belum memiliki pengalaman sebagai developer. Pada awalnya
Cokro mengibarkan bendera bisnis lewat CV Bintang Bangun Persada pada tahun
2009, ia berhasil dengan omzet Rp.27 miliar dengan laba Rp. 8,1 miliar.
Kisah lain, contohnya
PT Bahana Paramarta. PT. Bahana mempromosikan waralaba developer dengan
mengusung “Potensi bisnis property masih terbuka lebar karena kebutuhan rumah
masih sangat tinggi”. Hal itu ditegaskan oleh Bambang Subagio sebagai Direktur
Utama Bahana. PT. bahana dapat menggandeng empat mitra yang membuka lokasi
perumahan di Depok, tangerang, dan Bekasi. Selanjutnya, Bahana memasang target
menambah dua mitra. Bambang mengatkan bahwa potensi developer kecil (developer
pemula) sangat besar dibandingkan dengan developer besar pada lahan yang
ditunjuknya. Walaupun demikian, manajemen yang dilakukannya seperti developer
besar. Beliau yakin “Dengan pengembangan usaha secara waralaba merek bahana
semakin besar”.
Keuntungan menjadi
developer yang bermitra dengan waralaba adalah sudah tidak dipusingkan dengan
strategi promosi, pemasaran, hingga pembangunan proyek .
Untuk menjadi developer
mandiri atau developer yang bermitra dengan waralaba adalah pilihan.
Masing-masing memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing.
Mungkin
Anda berpikir bahwa menjadi seorang developer harus memiliki pengalaman yang
memadai. Hal itu bisa dibenarkan, walaupun tidak tertutup kemungkinan untuk
masyarakat awam untuk memulai bisnis ini. Hal ini dikuatkan dengan pendapat
Cokro (Cokro Anton Wibowo seorang developer asal Palembang) “Orang awam pun
bisa, asalkan mau belajar dengan sungguh-sungguh.” Namun, disarankan untuk
berkenalan dengan developer berpengalaman untuk menggali ilmu dan informasi
untuk usaha ini.
Kompetensi yang
dibutuhkan dalam bisnis dapat diperoleh dengan perekrutan tenaga kerja. Menurut
Cokro “Yang pokok adalah tenaga-tenaga di bidang teknik sipil, arsitek, dan
pemasaran.” Di awal cukup merekrut lima karyawan. Namun, untuk mempelajari
hal-hal yang terkait dengan developer dibutuhkan sekitar dua tahun.
Keuntungan sebesar 25%
hingga 35% menggiurkan seseorang untuk menjadi pengembang property (developer).
Bayangkan saja dengan modal Rp. 6 miliar bisa kembali dalam waktu 2 tahun saja.
Ada dua macam developer pemula, ada developer mandiri dan ada developer yang
bermitra dengan waralaba.
Developer
Mandiri
Untuk menjadi developer
mandiri, Cokro (developer asal Palembang) mengatakan bahwa untuk memulai bisnis
ini, seorang developer memerlukan lahan, perencanaan bisnis, dan tenaga kerja.
Untuk modal awal, Rp.500 juta – Rp.1 miliar dibutuhkan. Uang tersebut digunakan
untuk membangun kantor, rumah contoh, jalan dan taman, promosi, serta legalitas
pertanahan. Sebagai seorang pemula lahan yang harus disediakan adalah minimal 1
ha dan dibutuhkan dana Rp.2 miliar – Rp.3 miliar. Menurut Cokro, harga tanah
sekitas Rp. 300.000 per m2 masih bisa mendapatkan lokasi yang bagus
dan strategis”.
Berdasarkan tanah seluas
1 ha yang didapat, dibangun 60-70 unit rumah tipe 40m2. Menurut
Cokro, di Palembang dengan ukuran tersebut rata-rata harga rumah dikenakan
mulai Rp.180 juta hingga Rp.250 juta per unit. Harga tersebut dinilai masih
terjangkau oleh masyarakat sebagai pembeli. Hal ini memudahkan developer
menjual property yang telah dibangun. Jika terjual habis maka omzet yang
didapat sekitar Rp. 12 miliar.
Syarat utama dalam
bisnis property adalah lokasi strategis dan harga terjangkau, dalam waktu
setahun semua unit rumah bisa laku terjual. Strategis yang dimaksud adalah
jarak rumah dan jalan raya tidak terlalu jauh, akses jalan tidak rusak, dan
dekat dengan fasilitas umum seperti pasar, rumah sakit, dan sekolah.
Seorang developer
pemula yang mandiri membutuhkan promosi awal yang besar. Diperlukan dana untuk
pasang iklan, mengikuri pameran-pameran dan upaya lainnya dalam rangka
mempromosikan bendera perusahaannya yang masih baru.
Keuntungan menjadi
developer mandiri adalah terbebas dari franchise fee, marketing fee, dan
royalty fee. Dengan omzetRp. 12 miliar, pengeluaran selama setahun Rp. 6,96
miliar. Biaya itu dipakai untuk belanja bahan bangunan dan tukan, pembangunan
fasilitas umum dan social, pengurusan izin, membayar gaji karyawan, promosi dan
biaya operasional lain.
Developer
yang Bermitra dengan Waralaba
Sebuah contoh kisah
kesuksesan seorang developer asal Palembang bernama Cokro Anton Wibowo dapat
membangun perumahan di enam lokasi proyek perumahan dan empat lokasi proyek
pertokoan hanya dalam waktu tiga tahun. Pada waktu itu, Cokro adalah developer
pemula karena ia belum memiliki pengalaman sebagai developer. Pada awalnya
Cokro mengibarkan bendera bisnis lewat CV Bintang Bangun Persada pada tahun
2009, ia berhasil dengan omzet Rp.27 miliar dengan laba Rp. 8,1 miliar.
Kisah lain, contohnya
PT Bahana Paramarta. PT. Bahana mempromosikan waralaba developer dengan
mengusung “Potensi bisnis property masih terbuka lebar karena kebutuhan rumah
masih sangat tinggi”. Hal itu ditegaskan oleh Bambang Subagio sebagai Direktur
Utama Bahana. PT. bahana dapat menggandeng empat mitra yang membuka lokasi
perumahan di Depok, tangerang, dan Bekasi. Selanjutnya, Bahana memasang target
menambah dua mitra. Bambang mengatkan bahwa potensi developer kecil (developer
pemula) sangat besar dibandingkan dengan developer besar pada lahan yang
ditunjuknya. Walaupun demikian, manajemen yang dilakukannya seperti developer
besar. Beliau yakin “Dengan pengembangan usaha secara waralaba merek bahana
semakin besar”.
Keuntungan menjadi
developer yang bermitra dengan waralaba adalah sudah tidak dipusingkan dengan
strategi promosi, pemasaran, hingga pembangunan proyek .
Untuk menjadi developer
mandiri atau developer yang bermitra dengan waralaba adalah pilihan.
Masing-masing memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing.
Untuk info lebih lanjut, kunjungi : www.lohjinawiproperti.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar