Jumat, 02 Desember 2016

MENJADI DEVELOPER PEMULA YANG MANDIRI ATAU BERMITRA DENGAN WARALABA



Mungkin Anda berpikir bahwa menjadi seorang developer harus memiliki pengalaman yang memadai. Hal itu bisa dibenarkan, walaupun tidak tertutup kemungkinan untuk masyarakat awam untuk memulai bisnis ini. Hal ini dikuatkan dengan pendapat Cokro (Cokro Anton Wibowo seorang developer asal Palembang) “Orang awam pun bisa, asalkan mau belajar dengan sungguh-sungguh.” Namun, disarankan untuk berkenalan dengan developer berpengalaman untuk menggali ilmu dan informasi untuk usaha ini.

Kompetensi yang dibutuhkan dalam bisnis dapat diperoleh dengan perekrutan tenaga kerja. Menurut Cokro “Yang pokok adalah tenaga-tenaga di bidang teknik sipil, arsitek, dan pemasaran.” Di awal cukup merekrut lima karyawan. Namun, untuk mempelajari hal-hal yang terkait dengan developer dibutuhkan sekitar dua tahun.

Keuntungan sebesar 25% hingga 35% menggiurkan seseorang untuk menjadi pengembang property (developer). Bayangkan saja dengan modal Rp. 6 miliar bisa kembali dalam waktu 2 tahun saja. Ada dua macam developer pemula, ada developer mandiri dan ada developer yang bermitra dengan waralaba.

Developer Mandiri

Untuk menjadi developer mandiri, Cokro (developer asal Palembang) mengatakan bahwa untuk memulai bisnis ini, seorang developer memerlukan lahan, perencanaan bisnis, dan tenaga kerja. Untuk modal awal, Rp.500 juta – Rp.1 miliar dibutuhkan. Uang tersebut digunakan untuk membangun kantor, rumah contoh, jalan dan taman, promosi, serta legalitas pertanahan. Sebagai seorang pemula lahan yang harus disediakan adalah minimal 1 ha dan dibutuhkan dana Rp.2 miliar – Rp.3 miliar. Menurut Cokro, harga tanah sekitas Rp. 300.000 per m2 masih bisa mendapatkan lokasi yang bagus dan strategis”.

Berdasarkan tanah seluas 1 ha yang didapat, dibangun 60-70 unit rumah tipe 40m2. Menurut Cokro, di Palembang dengan ukuran tersebut rata-rata harga rumah dikenakan mulai Rp.180 juta hingga Rp.250 juta per unit. Harga tersebut dinilai masih terjangkau oleh masyarakat sebagai pembeli. Hal ini memudahkan developer menjual property yang telah dibangun. Jika terjual habis maka omzet yang didapat sekitar Rp. 12 miliar.

Syarat utama dalam bisnis property adalah lokasi strategis dan harga terjangkau, dalam waktu setahun semua unit rumah bisa laku terjual. Strategis yang dimaksud adalah jarak rumah dan jalan raya tidak terlalu jauh, akses jalan tidak rusak, dan dekat dengan fasilitas umum seperti pasar, rumah sakit, dan sekolah.
Seorang developer pemula yang mandiri membutuhkan promosi awal yang besar. Diperlukan dana untuk pasang iklan, mengikuri pameran-pameran dan upaya lainnya dalam rangka mempromosikan bendera perusahaannya yang masih baru.

Keuntungan menjadi developer mandiri adalah terbebas dari franchise fee, marketing fee, dan royalty fee. Dengan omzetRp. 12 miliar, pengeluaran selama setahun Rp. 6,96 miliar. Biaya itu dipakai untuk belanja bahan bangunan dan tukan, pembangunan fasilitas umum dan social, pengurusan izin, membayar gaji karyawan, promosi dan biaya operasional lain.

Developer yang Bermitra dengan Waralaba

Sebuah contoh kisah kesuksesan seorang developer asal Palembang bernama Cokro Anton Wibowo dapat membangun perumahan di enam lokasi proyek perumahan dan empat lokasi proyek pertokoan hanya dalam waktu tiga tahun. Pada waktu itu, Cokro adalah developer pemula karena ia belum memiliki pengalaman sebagai developer. Pada awalnya Cokro mengibarkan bendera bisnis lewat CV Bintang Bangun Persada pada tahun 2009, ia berhasil dengan omzet Rp.27 miliar dengan laba Rp. 8,1 miliar.

Kisah lain, contohnya PT Bahana Paramarta. PT. Bahana mempromosikan waralaba developer dengan mengusung “Potensi bisnis property masih terbuka lebar karena kebutuhan rumah masih sangat tinggi”. Hal itu ditegaskan oleh Bambang Subagio sebagai Direktur Utama Bahana. PT. bahana dapat menggandeng empat mitra yang membuka lokasi perumahan di Depok, tangerang, dan Bekasi. Selanjutnya, Bahana memasang target menambah dua mitra. Bambang mengatkan bahwa potensi developer kecil (developer pemula) sangat besar dibandingkan dengan developer besar pada lahan yang ditunjuknya. Walaupun demikian, manajemen yang dilakukannya seperti developer besar. Beliau yakin “Dengan pengembangan usaha secara waralaba merek bahana semakin besar”.

Keuntungan menjadi developer yang bermitra dengan waralaba adalah sudah tidak dipusingkan dengan strategi promosi, pemasaran, hingga pembangunan proyek .

Untuk menjadi developer mandiri atau developer yang bermitra dengan waralaba adalah pilihan. Masing-masing memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing.


Mungkin Anda berpikir bahwa menjadi seorang developer harus memiliki pengalaman yang memadai. Hal itu bisa dibenarkan, walaupun tidak tertutup kemungkinan untuk masyarakat awam untuk memulai bisnis ini. Hal ini dikuatkan dengan pendapat Cokro (Cokro Anton Wibowo seorang developer asal Palembang) “Orang awam pun bisa, asalkan mau belajar dengan sungguh-sungguh.” Namun, disarankan untuk berkenalan dengan developer berpengalaman untuk menggali ilmu dan informasi untuk usaha ini.

Kompetensi yang dibutuhkan dalam bisnis dapat diperoleh dengan perekrutan tenaga kerja. Menurut Cokro “Yang pokok adalah tenaga-tenaga di bidang teknik sipil, arsitek, dan pemasaran.” Di awal cukup merekrut lima karyawan. Namun, untuk mempelajari hal-hal yang terkait dengan developer dibutuhkan sekitar dua tahun.

Keuntungan sebesar 25% hingga 35% menggiurkan seseorang untuk menjadi pengembang property (developer). Bayangkan saja dengan modal Rp. 6 miliar bisa kembali dalam waktu 2 tahun saja. Ada dua macam developer pemula, ada developer mandiri dan ada developer yang bermitra dengan waralaba.

Developer Mandiri

Untuk menjadi developer mandiri, Cokro (developer asal Palembang) mengatakan bahwa untuk memulai bisnis ini, seorang developer memerlukan lahan, perencanaan bisnis, dan tenaga kerja. Untuk modal awal, Rp.500 juta – Rp.1 miliar dibutuhkan. Uang tersebut digunakan untuk membangun kantor, rumah contoh, jalan dan taman, promosi, serta legalitas pertanahan. Sebagai seorang pemula lahan yang harus disediakan adalah minimal 1 ha dan dibutuhkan dana Rp.2 miliar – Rp.3 miliar. Menurut Cokro, harga tanah sekitas Rp. 300.000 per m2 masih bisa mendapatkan lokasi yang bagus dan strategis”.

Berdasarkan tanah seluas 1 ha yang didapat, dibangun 60-70 unit rumah tipe 40m2. Menurut Cokro, di Palembang dengan ukuran tersebut rata-rata harga rumah dikenakan mulai Rp.180 juta hingga Rp.250 juta per unit. Harga tersebut dinilai masih terjangkau oleh masyarakat sebagai pembeli. Hal ini memudahkan developer menjual property yang telah dibangun. Jika terjual habis maka omzet yang didapat sekitar Rp. 12 miliar.

Syarat utama dalam bisnis property adalah lokasi strategis dan harga terjangkau, dalam waktu setahun semua unit rumah bisa laku terjual. Strategis yang dimaksud adalah jarak rumah dan jalan raya tidak terlalu jauh, akses jalan tidak rusak, dan dekat dengan fasilitas umum seperti pasar, rumah sakit, dan sekolah.
Seorang developer pemula yang mandiri membutuhkan promosi awal yang besar. Diperlukan dana untuk pasang iklan, mengikuri pameran-pameran dan upaya lainnya dalam rangka mempromosikan bendera perusahaannya yang masih baru.

Keuntungan menjadi developer mandiri adalah terbebas dari franchise fee, marketing fee, dan royalty fee. Dengan omzetRp. 12 miliar, pengeluaran selama setahun Rp. 6,96 miliar. Biaya itu dipakai untuk belanja bahan bangunan dan tukan, pembangunan fasilitas umum dan social, pengurusan izin, membayar gaji karyawan, promosi dan biaya operasional lain.

Developer yang Bermitra dengan Waralaba

Sebuah contoh kisah kesuksesan seorang developer asal Palembang bernama Cokro Anton Wibowo dapat membangun perumahan di enam lokasi proyek perumahan dan empat lokasi proyek pertokoan hanya dalam waktu tiga tahun. Pada waktu itu, Cokro adalah developer pemula karena ia belum memiliki pengalaman sebagai developer. Pada awalnya Cokro mengibarkan bendera bisnis lewat CV Bintang Bangun Persada pada tahun 2009, ia berhasil dengan omzet Rp.27 miliar dengan laba Rp. 8,1 miliar.
Kisah lain, contohnya PT Bahana Paramarta. PT. Bahana mempromosikan waralaba developer dengan mengusung “Potensi bisnis property masih terbuka lebar karena kebutuhan rumah masih sangat tinggi”. Hal itu ditegaskan oleh Bambang Subagio sebagai Direktur Utama Bahana. PT. bahana dapat menggandeng empat mitra yang membuka lokasi perumahan di Depok, tangerang, dan Bekasi. Selanjutnya, Bahana memasang target menambah dua mitra. Bambang mengatkan bahwa potensi developer kecil (developer pemula) sangat besar dibandingkan dengan developer besar pada lahan yang ditunjuknya. Walaupun demikian, manajemen yang dilakukannya seperti developer besar. Beliau yakin “Dengan pengembangan usaha secara waralaba merek bahana semakin besar”.

Keuntungan menjadi developer yang bermitra dengan waralaba adalah sudah tidak dipusingkan dengan strategi promosi, pemasaran, hingga pembangunan proyek .

Untuk menjadi developer mandiri atau developer yang bermitra dengan waralaba adalah pilihan. Masing-masing memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing.

Untuk info lebih lanjut, kunjungi : www.lohjinawiproperti.com



Tidak ada komentar:

Posting Komentar